Kenapa Kita Selalu Merasa Tertinggal? Karena Efek FOMO dan Tekanan Sosial
Di zaman ini, saat jempol tak berhenti menggulir linimasa, kita tanpa sadar sedang terseret dalam arus deras yang bernama FOMO—Fear of Missing Out. Kita berlomba-lomba menunjukkan pencapaian, membandingkan langkah hidup, dan takut tertinggal. Tapi, pernahkah kita jeda sejenak dan bertanya: Apakah aku masih ingat tujuan hidupku sebenarnya? Atau jangan-jangan, kita sibuk mengejar validasi dan melupakan arah?
Manusia tidak diciptakan hanya untuk mengumpulkan likes, followers, atau popularitas semu. Kita adalah makhluk yang punya misi agung: menjadi hamba yang taat kepada Sang Pencipta. Visi kehidupan yang sejati bukanlah tentang siapa paling cepat sukses duniawi, tetapi siapa yang paling baik amalnya. Sayangnya, budaya yang individualistis dan materialistis membuat kita lebih peduli pada pencitraan, ketimbang penciptaan.
Media sosial telah mengubah banyak hal, termasuk cara kita menilai diri sendiri. Padahal, orientasi hidup seorang hamba seharusnya bukan pada pujian makhluk, tapi pada ridha Allah. Kita terlalu sering lupa bahwa dunia ini sementara. Sebuah tempat persinggahan, bukan rumah abadi. Jika orientasi hidup hanya soal prestise dunia, kita sedang membangun istana rapuh yang tak akan pernah cukup luas menampung gelisah.
Mari kita perbaiki cara pandang. Jangan terhanyut oleh standar dunia yang terus berubah. Hidup ini bukan soal siapa lebih dulu menikah, punya rumah, atau viral di TikTok. Ini tentang bagaimana kita memaknai waktu, menebar ilmu yang bermanfaat, dan menjaga niat tetap lurus menuju akhirat. Jangan sampai kita terlambat sadar bahwa jalan yang kita tempuh ternyata jauh dari arah yang benar.
Kita perlu reset, menyusun ulang visi kehidupan. Hidup ini bukan kompetisi pencapaian dunia, tapi ladang amal untuk bekal pulang. Pertanyaan pentingnya adalah: Apakah aku sedang berjalan mendekat kepada Allah atau justru menjauh? Karena sesungguhnya, kemenangan yang sejati bukanlah viral di dunia, tapi selamat di akhirat.
Di tengah derasnya arus zaman, mari tetap tenang. Jadilah hamba yang tahu arah, tahu misi, dan tahu kenapa kita ada. Dunia ini bukan panggung pencitraan, tapi ladang pengabdian. Jangan habiskan waktu untuk mengejar yang fana, sementara yang kekal kita lupakan. Yuk, kembali pada makna. Sebab hidup akan terasa ringan jika orientasinya benar. [Andi abinya Ibrahim]


Comments
Post a Comment